Sesibuk mana
pun dengan urusan dunia,
jangan sampai
kita abaikan urusan akhirat..
Itu
bekal kita..
Dunia-dunia
juga,
tapi jangan
sampai agama di ketepikan..
Apa yang
wajib kita belajar,
kita
belajar..
Apa yang
wajib kita cari,
kita cari..
Dalam belajar
dan mencari, agama mesti didahului...
insya
ALLAH...
( BERTAUBATLAH SEBELUM AJAL MENJEMPUTMU...!!! )
Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang
sangat jahat saat mudanya.
Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan
pengabdian kepada Allah.
Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan
karena kesucian dan perilaku- perilaku yang membebaskan.
Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa
orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh
pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.
Hidup suci dalam Islam bisa diraih oleh siapa saja.
Kesucian hidup, bukanlah hak istimewa seseorang.
Jalan tersebut terbuka bagi siapa saja, tidak hanya milik para
ulama.
Bahkan orang jahat sekalipun, ia bisa menapak cara hidup suci,
asal dia bersedia untuk bertaubat dan bersungguh-sungguh.
Bagi Allah, kesalehan bukan karena sama sekali tidak berbuat
dosa, akan tetapi orang yang saleh adalah orang yang setiap kali berbuat dosa
dia menyesali dan selanjutnya tak mengulangi perbuatan tadi.
Pepatah Arab menegaskan : “
Manusia adalah tempat salah dan lupa”.
Pepatah di atas bukan berarti
manusia dibiarkan untuk selalu berbuat salah dan dosa, akan tetapi kesalahan
pada diri manusia harus ditebus dengan tobat, penyesalan dan penghentian.
Rasulullah bersabda : Setiap anak Adam adalah sering
berbuat salah. Dan, sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang-orang
yang bertaubat.? (H.R. Tirmidzi)
Taubat yang sungguh-sungguh di mata Allah adalah pembersihan
diri yang sangat dicintai.
Dalam Islam, pertaubatan bukan melalui orang lain, sebut saja
orang saleh, tetapi dari diri sendiri secara langsung kepada Allah.
Apalagi, Islam tidak mengenal penebusan dosa dengan sejumlah
uang.
Islam sungguh sangat berbeda dengan cara-cara pertaubatan
dibanding agama-agama lain.
Islam memandang, pertaubatan adalah persoalan yang sangat
personal antara seorang hamba dengan Tuhannya.
Dan, Tuhan dalam Islam adalah Tuhan yang bisa didekati sedekat mungkin,
bukan tuhan yang berada di atas langit, tak terjangkau.
Sabda Nabi Muhammad SAW: “Sesungguhnya Allah lebih suka menerima
tobat hamba-Nya melebihi dari kesenangan seseorang yang menemukan kembali
ontanya yang hilang di tengah hutan.” (H.R. Bukhori dan Muslim)
Islam tidak menganggap
taubat sebagai langkah terlambat kapanpun kesadaran itu muncul.
Hisab (perhitungan)
akan amal- amal jelek kita di mata Allah akan terhapus dengan taubat
kita.
Lembaran baru hidup
terbuka lebar. Langkah anyar terbentang. Sabda Nabi (saw) : “Siapa yang
bertobat sebelum matahari terbit dari barat, maka Allah akan menerima taubat
dan memaafkannya.?” (H.R. Muslim)
Bertaubat, demikian halnya,
dijadikan amalan dzikir oleh Rasulullah (saw) setiap hari.
Beliau beristighfar kendati
sedikitpun beliau tidak melakukan dosa. Karena lewat istighfar, Nabi memohon
ampun dan mengungkapkan kerendahan hati yang sangat dalam di hadapan yang Maha
Agung.
Sabda Nabi (saw) : Hai sekalian manusia, bertaubatlah
kamu kepada Allah dan mintalah ampun kepada-Nya, maka sesungguhnya saya
bertaubat dan beristighfar tiap hari 100 kali.? (H.R. Muslim)
Firman Allah : Katakanlah
! Hai hamba-hamba- Ku yang berdosa terhadap jiwanya sendiri, janganlah kamu
berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa.
Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.? (Q.S. al-Zumar : 53)
Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan
seikhlas-ikhlas taubat, semoga Tuhan mu akan menghapuskan dari kamu akibat
kejahatan perbuatan- perbuatanmu, dan akan memasukkan kamu ke dalam surga yang
dibawahnya mengalir sungai-sungai.? (Q.S. al Thalaq : 8)
Dalam memperbaiki kesalahan dan membersihkan diri dari dosa, ada
dua hal yang perlu diperhatikan, yaitu hak Allah dan hak bani Adam.
Apabila kesalahan atau dosa berhubungan dengan hak Allah, maka
ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
1.Harus menghentikan tindakan maksiat.
2.Harus dengan sungguh- sungguh menyesali perilaku dosa yang
telah dikerjakan.
3.Berniat dengan tulus untuk tidak mengulangi kembali perbuatan
tersebut.
Dan, apabila kesalahan itu berhubungan dengan bani Adam,
maka syarat bertambah satu, yaitu harus menyelesaikan urusannya
dengan orang yang berhak dengan meminta maaf atau halalnya, atau mengembalikan
apa yang harus dikembalikan.
Sabda Nabi (saw) : Orang
yang bertaubat dari dosa seperti orang yang tidak berdosa. Dan orang yang minta
ampunan dari dosanya, sedangkan dirinya tetap mengerjakan dosa, seperti orang
yang mempermainkan Tuhannya.? (H.R. Baihaqi)
Tidak sedikit orang-orang saleh awalnya adalah orang-orang yang
sangat jahat saat mudanya.
Setelah bertaubat, ia beristiqomah dalam berbuat baik dan
pengabdian kepada Allah.
Beberapa di antara mereka, pada akhirnya, menjadi tokoh panutan
karena kesucian dan perilaku- perilaku yang membebaskan.
Konon, Sunan Kalijaga adalah salah satu contoh beberapa
orang-orang saleh yang berhasil tercerahkan, dan selanjutnya menjadi tokoh
pemberi pencerahan pada masyarakat pada zamannya.
Wallahu a’lam



Posting Komentar